Tak Berkategori

Cerpen Madani

KHITBAH
Oleh : Senja Jingga

Bau embun pagi ini kembali mencuat ke indra penciumanku. Sudah lama rasanya tidak menginjakkan kaki ditanah kelahiranku. Sejak kejadian di hari itu aku memutuskan untuk meninggalkan kota ini. Bukan untuk lari dari masalah, hanya saja perasaan ini belum mampu menerima realita logika.
Tidak tahu kenapa, malam tadi melalui suaranya di ujung telfon bapak memintaku untuk pulang.
“Pulanglah Ra, ada yang perlu bapak dan ibuk katakan padamu”
“Ada apa pak?”
“Pulang saja”
Bapak selalu saja begitu. Selalu berbicara dengan nada tegas dan memperlihatkan sosok kebijaksanaanya.
“Ada apa? Mungkinkah aku harus pulang? baiklah” batinku bergeming.

Setengah jam yang lalu pesawat yang aku naiki sudah mendarat. Merantau ke ibukota membuatku banyak ketinggalan berita di tanah kelahiranku ini. Banyak yang sudah berubah. Bangunan – bangunan pencakar langit mulai menjamur di kota yang dahulunya tertinggal ini.
“Bismillah” Aku langkahkan kaki kanan ini keluar dari bandara menuju taksi yang sudah oleh dipesan kakak tertuaku.
“Ke Jalan Melati pak” Ucapku lugas.

Perjalanan diatas taksi tidak aku manfaatkan secara produktif kecuali memikirkan apa alasan bapak memintaku untuk pulang.
Sudah hampir delapan tahun aku meninggalkan bapak dan ibuk. Aku sangat merindukan mereka. Dengan alasan menuntut ilmu yang dibalut oleh kuliah aku terbang ke kota metropolitan. Walaupun sejujurnya bukan karena hal tersebut aku memutuskan untuk kesana. Ada hal lain yang meminta hati dan raga ini untuk pergi. Tapi itu tidak sepenuhnya salah. Buktinya sekarang aku telah menamatkan gelar masterku beberapa bulan yang lalu dan sudah bekerja pula di salah satu perusahaan asing. Kesibukanku selama ini sejenak membuat lupa akan perasaanku yang melayu. Sejenak ? Benar. Hanya sejenak saja rasa ini lupa kemudian datang lagi. Aku fikir dengan menjauhkan raga dari dia membuat rasa ini hilang. Namun, ternyata ekspetasi logikaku salah. Ternyata perasaan ini masih sanggup bertahan meski telah dijauhkan dari dirinya.
Dia.. lelaki bijaksana yang mampu menggoyahkan keteguhan hatiku.
Ahhh.. bagaimana kabarnya delapan tahun ini tanpa kehadiranku?
Akankah dia telah menemukan hati lain?
Atau mungkin saja dia telah menikah dan memiliki buah hati yang lucu. Mungkin saja. Bukankah dia sama sekali tidak mempunyai rasa padaku? Jadi untuk apa aku masih memikirkan tentangnya. Cukup Rara! Dia pasti sudah melupakanmu. Apakah kamu ingin pengorbanan delapan tahun ini sia – sia hanya karena kembali menapakkkan kaki di tanah yang penuh kenangan ini? Tidak bukan.

Akhirnya mataku kembali dimanjakan oleh pemandangan rumah yang penuh dengan cinta dan kenyamanan setelah hampir satu jam didalam taksi. Rumahnya masih sama seperti dulu. Cat dan tanaman yang mengelilinya juga masih sama. Yang berbeda hanya keramaiannya. Jika dulu di lingkungan ini baru ada tiga petak rumah sekarang sudah banyak. Sudah seperti perumahan yang sering aku lihat di kota metropolitan. Dan juga ada sebuah mobil CR-V putih yang terparkir didepan rumah. Tapi mobil siapa? Bapak tidak mungkin membeli mobil seperti itu karena bapak lebih suka untuk menaiki motor. Mungkin ada tamu. Tapi siapa yang bertamu pagi – pagi begini.
Perlahan – lahan aku melangkahkan kaki menuju halaman. Perlahan – lahan pula hati ini bergetar. “Ya Allah, ada apa dengan hati hamba ? Kenapa dia bergetar tidak menentu. Tenangkanlah Ya Allah, Bismillah”

Lama sekali rasanya sampai didepan pintu. Aku ingin berlari. Tapi takut jika nanti jatuh. Mungkin tidak akan sakit bagi seorang anak berusia dua puluh lima tahun sepertiku. Tapi pasti akan malu bukan ? Apalagi jika yang membawa mobil CR-V itu adalah tamu bapak. Bisa – bias aku membuat malu bapak.
“Assalamu’alaikum” aku sedikit mengeraskan volume bicaraku agar didengar oleh orang didalam rumah. Sepertinya mereka bercengkerama sangat hangat sampai – sampai suara tertawa mereka terdengar sampai ke gendang telingaku.
“Wa’alaikumsalam” jawab suara dari dalam yang sangat familiar di fikiranku. Seperti suara sosok yang aku fikirkan beberapa waktu lalu. Salah, bukan beberapa waktu lalu. Setiap detik berjalan aku memikirkannya. Tapi tidak mungkin dia.
“Rara, ibuk sangat merindukanmu” akhirnya ibuk memunculkan dirinya dari balik pintu. Dengan mengenakan gamis maroon dengan jilbab senada ibuk memelukku didepan pintu.
“Ibuk, Ra juga rindu dengan ibuk, apalagi dengan teri cabe hijau masakan ibuk” kataku sambil tertawa.
“Masuklah Ra, ada hal penting yang akan bapak katakan padamu” seru ibuk sambil merangkul tanganku masuk kedalm rumah

“MasyaAllah, dia ..” batinku bergeming, langkah kaki ini seketika terhenti. Seolah ada remote control yang menekan tombol off hingga dia terhenti.
“Assalamua’alaikum Ra, bagaimana kabarmu?” suaranya yang tadi mulai aku dengar kembali.
Dia ada disini. Ternyata inilah alasan kenapa hatiku dan fikiranku bergejolak beberapa waktu lalu. Tapi untuk apa dia ada disini ? sudah lama aku tidak melihat rupanya.
“Rara, Revan menyakan kabarmu sayang” sahutan ibuk menyadarkan lamunanku.
“Astagfirullah, kabarku baik Re, buk pak Ra ke kamar sebentar” kataku
“Letakkan barang – barangmu Din, kemudian kembalilah keruang tamu” kini bapak yang mulai berbicara setelah belum membuka suara dari tadi. Kemudian aku melangkahkan kaki menuju kamar yang aku tinggalkan delapan tahun dengan fikiran yang dipenuhi oleh beribu tanda tanya.
Dia ..
Untuk apa dia ada disini ? bukankah urusan kami telah selesai delapan tahun yang lalu. Bahkan aku masih mengingat kata – kata terakhirnya untukkku.
“Sudahi ini Ra, ini sama sekali tidak benar”
“Tapi kenapa Re ? apa yang sudah aku lakukan hingga kamu ingin mengakhiri semua ini”
“Ra ..”
“Ada Revan? Ceritakanlah”
“Lelaki baik – baik tidak akan menjalani hubungan dalam ikatan yang tidak halal”
“Lalu?”
“Begitupun sebaliknya”
“Tapi aku menyayangimu Re”
“Akupun begitu Ra, tapi bukankah kamu tidak ingin mendapatkan seseorang yang lebih baik dari ku?”
“…”
“Berusahalah untuk menjadi baik, maka kamu akan mendapatkan yang terbaik”
“Kamu jahat Re”
Ahhh … mengingatnya saja membuat batinku kembali menangis. Tapi itu dulu. Saat ini perlahan – lahan aku mulai menyadari arti perkataannya.

Aku duduk disamping ibuk. Didepanku ada Revan. Dan bapak duduk di kursi yang satunya lagi. Kejadian ini terasa sangat formal.
“Rara, nak Revan datang kemari untuk memintamu pada bapak, mengkhitbahmu” bapak mulai membuka pembicaraan.
“Benar sayang, dia sudah datang beberapa hari yang lalu, namun ibuk katakan pada bapak untuk menunggumu pulang dan meminta persetujuanmu” ibuk melanjutkan perkataan bapak
“Dari penjelesannya, nak Revan ini sudah memiliki penghasilan yang tetap dan ilmu agama yang cukup untuk membimbing kamu Ra” sambung bapak kemudian
“Bagaimana sayang ? bapak dan ibuk sudah memberikan persetujuan, sekarang tergantung kamunya” kata ibuk
“Ibuk, bapak, Ra menghargai keputusan bapak dan ibuk. Tapi untuk masalah ini Ra tidak ingin salah memilih. Untuk Revan, terimakasih telah memilih Din untuk menjadi pendampingmu, tapi Ra menyerahkan ini semua pada Allah”
“Apa maksudmu sayang? ” kata ibuk sambil mengelus puncuk kepalaku memperlihatkan sosok keibuannya
“Din ingin meminta Revan untuk menunggu beberapa hari saja, sampai din mendapatkan jawaban atas istikharah Ra kepada Allah”
“Bagaimana nak Revan ?” sambung bapak kemudian
“Baiklah pak, saya akan menunggu beberapa hari lagi” Revan angkat bicara

Setelah beberapa hari aku melaksanakan sholat istikharah. Jawabannya selalu sama. Inikah jawaban dari cinta diamku delapan tahun ini? Subhanallah. Janji Allah itu pasti. Semoga apa yang Allah takdirkan untukku memang benar – benar untuk kebaikanku.

Payakumbuh, 02 November 2017

Iklan
Tak Berkategori

Rasa

Rasa itu masih ada. Bahkan saat didetik pertama hatiku melihat tanda-tanda kehadiran ragamu. Dan jauh didasarnya terdesir getaran hebat seperti saat terakhir berjumpa. Syukurlah hati ini masih sanggup mengendalikan raga untuk tetap diam terpaku agar kau tak mendengar teriakannya. 

tips dan trik

Sukses itu relativ 

Apa yang pertama kali terfikir oleh kita saat mendengar kata sukses ?

Kaya ? Punya uang banyak ? Punya istri yang cantik ? Sesungguhnya itu adalah pemikiran yang kurang tepat, bukan salah sebenarnya. 

Dari kecil kita di ajarkan untuk belajar yang rajin agar nanti menjadi orang yang sukses. Tapi tahukan kita tentang apa sukses itu sebenarnya ? 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sukses adalah berhasil atau beruntung, sedangkan kesuksesan adalah keberhasilan atau keberuntungan. Jadi dapat disimpulkan bahwa arti sukses adalah tercapainya suatu cita-cita atau harapan yang selama ini kita usahakan dengan kerja keras pantang menyerah, atau lebih simpelnya keberhasilan seseorang dalam mewujudkan impiannya. Itulah sukses, hal yang menjadi tujuan akhir dari hidup kita. Lalu bagaimana pendapat orang- orang sukses?

Berikut adalah definisi sukses menurut orang- orang yang terlebih dahulu menuai sukses.

Miliuner Richard Branson percaya bahwa kesuksesan adalah soal keterlibatan. Dengan kekayaan sekitar US$ 5 triliun, pendiri Virgin Group ini tetap melibatkan dirinya dalam aktivitas perusahaan miliknya. Dalam blog Virgin, ia menulis, “Definisi kesuksesan? Makin sering Anda terlibat secara aktif dan praktis, Anda semakin merasa sukses”.

Guru spiritual Deepak Chopra percaya bahwa sukses adalah tentang perkembangan yang konstan. Dalam bukunya The Seven Spiritual Laws of Success, ia menuliskan bahwa kesuksesan dalam hidup bisa didefinisikann sebagai ekspansi kontinyu akan kebahagiaan dan realisasi yang progresif dari tujuan yang berharga.

Thomas Edison, ilmuwan dan pemilik 1.000 hak paten memiliki etos kerja yang keras. Ia bekerja 72 jam. Jadi wajar jika definisi sukses sama dengan ambisius. Menurutnya sukses adalah 1% inspirasi dan 99% keringat.

Arianna Huffington, pemimpin Huffington Post, mengatakan bahwa metrik kesuksesan tak cukup hanya uang dan kekuasaan. Harus ada metrik ketiga, yaitu kesejahteraan, kebijaksanaan, mimpi, dan berderma. Menurutnya faktor-faktor itulah yang menjaga psikologi kehidupan kita dan merupakan kesuksesan yang sebenarnya.

Penulis Maya Angelou yang baru saja wafat di usia 86 beberapa hari lalu, pernah mengatakan bahwa sukses adalah jika seseorang menyukai dirinya, menyukai apa yang dilakukannya, dan menyukai bagaimana ia melakukan pekerjaannya.

Politikus Inggris, Winston Churcil mengatakan bahwa sukses adalah keras hati. Karir politik Churchill berlangsung pada masa-masa sulit di era kebangkitan militer Hitler. Tak heran jika definis sukses menurutnya adalah kegagalan-kegagalan tanpa kehilangan antusiasme.

CEO Zappos, Tony Hsieh mengatakan bahwa sukses adalah hidup sesuai dengan nilai-nilai yang diyakininya. Menurutnya nilai dasar personal mendefinisikan siapa individu tersebut sebenarnya dan nilai dasar perusahaan pada akhirnya yang menentukan karakter dan merek produknya. “Bagi individu, karakter adalah takdir. Bagi organisasi, budaya adalah takdir,” ujarnya dalam buku Delivering Happiness.

Jadi, sukses adalah suatu keberuntungan yang sangat kita idam- idamkan, mimpikan. Sukses bukan hanya tentang material berupa kekayaan. Tapi masih ada yang lain. 

Ada seorang dokter yang merasa sukses ketika tangannya mampu mengobati pasien, seorang insinyur merasa sukses saat mampu membuat sebuah alat pakai, bahkan ibu rumah tangga sekalipun akan dikatakan sukses saat dia mampu mendidik putra putrinya menjadi anak yang sholeh dan sholehah dan berpendidikan. 

Puisi

Intuisi Rindu

Intuisi Rindu 
Oleh : Senja jingga
Dia kembali datang

Membawa secercah cahaya yang mencekam

Tersenyum menyapa hamparan negri

Seolah menertawakan kebahagiaanku

Diri ini seperti orang bodoh yang menunggunya

Sesaat datang namun kembali hilangi

Bak cahaya yang ditelan kegelapan malam

Kembali menyunyikan diri ini

Dalam pekatnya cahaya kelam
Dialah sang senja

Datang membawa tawa dan pergi dengan harapan

Harapan untuk hari esok

Percayalah

Sekalipun hadirnya sesaat 

Namun cahaya merahnya mengintuisi dalam raga

Terimakasih atas gedung tua diujung kota

Yang tidak lelah selalu melihat raga

Mambantuku dalam mengintuisi rindu 

Tak Berkategori

Antara kebenaran dan kebohongan

siapakah yang salah ?

antara pemberi cinta dan penerima ketulusan

mereka hanya melakukan apa yang dikatakan hati, di fikirkan oleh pikiran, dan dilihat oleh mata

apakah dia yang berusaha untuk menjaga komunikasi ataukah dia yang selalu percaya kepada si pemberi tadi

kenapa tidak pernah ada suatu titik temu antara mereka

padahal mereka mempuyai rasa yang sama , sama-sama mempunyai rasa memiliki

apakah dia yang selalu marah jika tak ada kabar ataukah dia yang selalu berusaha untuk memberi kabar

kehidupan itu berjalan layaknya air pada sungai, tapi kehidupan itu selau di lalui batu.

tergantung batu yang mana akan terlewati

jika tidak kuat maka akan tetap berdiri i batu itu sampai takdir Allah datng mengahampiri

bersabarlah .. karna Allah tidak akan memberi ujian yang tidak bisa dilalui hamba2 nya 🙂